Menuju Tahun 2019: Sejauhmana Penyediaan Air Bersih Pedesaan?

BAPPENAS RI Tahun 2017 mencatat bahwa sekitar 72 juta dari 260 juta penduduk Indonesia belum memiliki akses terhadap air bersih yang aman dan layak, dan sebagian besarnya berada di daerah pedesaan. Data pada tahun yang sama juga menunjukkan bahwa proporsi penduduk terhadap sumber air minum terlindungi (akses aman) adalah sebesar 72,04% padahal target pemerintah pada akhir tahun 2019 adalah 100%. UN-Water mencatat bahwa saat ini lebih dari 663 juta orang di dunia hidup tanpa persediaan air yang aman di rumah, menghabiskan waktu berjam-jam antrean dan berjalan ke sumber air yang jauh, dan mengkonsumsi air yang telah terkontaminasi. Tantangan ini semakin besar di abad ke-21 dengan adanya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global yang mendorong krisis air hampir di seluruh bagian dunia. Kejadian banjir, kekeringan dan pencemaran, semuanya dipengaruhi oleh telah terdegradasinya vegetasi, tanah, sungai dan danau. Pengabaian manusia akan lingkungan membuat krisis air semakin sulit, padahal air adalah merupakan kebutuhan utama bagi manusia dan makluk hidup lainnya yang tidak ada substitusinya.

Pada tataran kondisi penyediaa air bersih/minum di NTT, BPS mencatat presentase rumah tangga menurut sumber air minum pada Tahun 2015 sebagai berikut: air kemasan 0,69%, air isi ulang 4,4%, leding meteran (HU) 11,95%, sambungan rumah (SR) 1,94%, sumur bor/pompa 3,58%. sumur terlindung 18,37, sumur tak terlindung 6,15%, mata air terlindung 32,92%, mata air tak terlindung 11,57%, air sungai 3,78%, air hujan 4,43%, lainnya 0,205%. Salah satu makna yang terbaca dari data tersebut adalah penyediaan air minum masih menjadi perkara serius, dan masih kurangnya intervensi pemerintah dalam penyediaan air bersih sehingga masyarakat harus menyediakannya secara mandiri. Kondisi ini juga tergambar secara jelas di wilayah pedesaan yang masih jauh dari jangkauan pelayanan air oleh pemerintah melalui jaringan perpipaan PDAM, padahal sebagian besar penduduk NTT hidup di daerah pedesaan.

Persoalan Utama Penyediaan Air Bersih Pedesaan

Sekedar sharing informasi berdasarkan pelaksanaan program KKNPPM di Desa Hane Kabupaten TTS bersama Kemenristekdikti dan Undana, dan beberapa kajian tentang air bersih pedesaan di beberapa tempat, saya mencoba mendeskripsikan beberapa masalah utama dalam penyediaan air bersih pedesaan di daerah NTT antara lain:

Pertama. Jauhnya akses sumber air dari pemukiman masyarakat, elevasi sumber air potensial yang lebih rendah dari pemukiman penduduk, serta keterbatasan infrastruktur keairan termasuk jaringan distribusi yang belum merata sehingga menyulitkan masyarakat untuk mengakses air bersih.

Kedua. Variabilitas debit yang tinggi pada musim penghujan dan musim kemarau. Ini merupakan ciri daerah NTT secara umum, pemandangan kelangkaan air akan sangat terasa pada saat musim kemarau seperti sekarang ini.

Ketiga. Kualitas air yang buruk karena kondisi sumber air, dan tanpa proses pengolahan sebelum dinikmati masyarakat desa. Menurut UN-Water, secara global fakta menunjukkan bahwa 1,8 milyar orang menggunakan sumber air minum yang terkontaminasi, sehingga menempatkan mereka pada resiko tertular kolera, disentri, tipus dan polio. WHO/UNICEF 2014 mencatat bahwa air yang tidak sehat, sanitasi dan kebersihan yang buruk menyebabkan sekitar 842.000 kematian setiap tahunnya.

Kempat. Masih kurangnya sikap peduli masyarakat dalam memelihara sarana dan prasarana air bersih terbangun. Kemungkinan disebabkan oleh faktor misalnya: kurangnya pemahaman karena kurang adanya sosialisasi kepada masyarakat, sikap acuh tak acuh alias masa bodoh, atau sikap saling menunggu akibat kurang adanya inisiatif.

Kelima. Belum adanya unit khusus di desa yang bertugas mengelola air bersih secara baik, atau sudah ada namun terdapat keterbatasan SDM dalam pengelolaan dan penerapan teknologi yang sesuai.

Beberapa Solusi

Solusi yang bisa ditawarkan dalam penyediaan air bersih pedesaan yang meliputi aspek teknis, lingkungan, ekonomi, sosial/budaya, kelembagaan, dan peraturan yang seyogianya dijalankan secara bersama untuk bisa mendapatkan hasil yang diharapkan. Yang bisa dilakukan antara lain, sebagai berikut:

(a) Optimalisasi sumber air tersedia dengan penataan sistem distribusi, pengadaan/perluasan jaringan, penerapan teknologi yang tepat untuk mengambil/membawa air sampai ke masyarakat. Beberapa pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa meskipun terdapat sumber air yang potensial namun pemanfaatannya belum optimal karena sejumlah faktor keterbatasan alam, teknologi dan SDM;

(b) Mencari sumber air baru di dalam wilayah desa melaui air tanah atau di sekitar wilayah desa yang potensial memiliki sumber air permukaan. Langkah ini diambil apabila optimalisasi sumber air tersedia tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan,

(c) Memperbaiki sistem distribusi air agar pembagian air bisa merata dirasakan oleh seluruh masyarakat. Persoalan memang bisa timbul jika masyarakat yang wilayahnya memiliki sumber air dan dilewati jaringan perpipaan, namun mereka sendiri tidak mendapat bagian darinya,

(d) Meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk ikut membangun, menjaga dan memelihara sumber air dan infrastruktur keairan terbangun termasuk terlibat aktif dalam operasi dan pemeliharaannya (ada retribusi, dll),

(e) Perlunya pelestarian air dan sumber air secara berkelanjutan melalui upaya-upaya konservasi. UN-Water upaya konservasi memiliki potensi untuk mengatasi krisis air, caranya dengan memulai gerakan penghijauan dengan lebih giat dan upaya lainnya (pembuatan jebakan-jebakan air, sumur resapan, lubang biopori, dll) dengan harapan dapat menyeimbangkan siklus air;

(f) Dari sisi kelembagaan, perlunya pembentukan unit pengelola air bersih di tingkat desa, seperti BUMDES Pengelola Air Bersih. Dari sisi kebijakan pemerintah, perlu adanya program yang jelas dan terukur untuk jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang mengenai penyediaan air bersih tanpa menunggu bencana timbul dan bersikap seperti pemadam kebakaran,

(g) perlunya pengalokasian dana, baik dari pusat, pemda, dana desa atau dana dari sumber lainnya untuk program penyediaan air bersih, dan sejumlah solusi lainnya sesuai kekhasan masalah daerah tersebut.

Penutup

Banyak harapan agar penyediaan air bersih pedesaan tidak lagi sekedar angan namun realitas yang bisa dinikmati seluruh masyarakat. Disamping peran pemerintah dan masyarakat, keikutsertaan pihak kampus dalam memberikan edukasi kepada masyarakat dan menerapkan iptek dari hasil-hasil kajian akademik di lapangan juga menjadi point penting.

Realisasi penyediaan air bersih pedesaan memang masih belum memenuhi harapan dan menyisahkan persoalan hingga saat ini, dan ini menjadi tanggung-jawab bersama. Jika ada optimisme dan komitmen untuk bekerja dan melayani maka menjadi suatu keniscahayaan pemenuhan kebutuhan air bersih pedesaan yang layak bisa terealisasi untuk semua warga.

Mari kita terus berharap dengan berdoa dan bekerja, sampai bisa mendengar anak-anak bangsa yang ada di desa berkata sekarang, sumber air su dekat” ! Syalom !

 

(Oleh: Jakobis Johanis Messakh – Staf Pengajar PTB Undana Kupang, Alumni S3 TL-ITB Bandung)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *